Caput Succedaneum

BAB I

PENDAHULUAN

 

Kelahiran seorang bayi merupakan saat yang membahagiakan orang tua, terutama bayi yang lahir sehat. Bayi yang nantinya tumbuh menjadi anak dewasa melalui proses yang panjang, dengan tidak mengesampingkan faktor lingkungan keluarga. Tetapi tidak semua bayi lahir dalam keadaan sehat. Beberapa bayi lahir dengan gangguan pada masa prenatal, natal dan pascanatal. Keadaan ini akan memberikan pengaruh bagi tumbuh kembang anak selanjutnya.

Proses kelahiran sangat dipengaruhi oleh kehamilan. Dalam kehamilan yang tidak ada gangguan, diharapkan kelahiran bayi yang normal melalui proses persalinan yang normal, dimana bayi dilahirkan cukup bulan, pengeluaran dengan tenaga mengejan ibu dan kontraksi kandung rahim tanpa mengalami trauma lahir.

Kejadian caput succedaneum pada bayi sendiri adalah benjolan pada kepala bayi akibat tekanan uterus atau dinding vagina dan juga pada persalinan dengan tindakan vakum ekstraksi.

Sebagian besar cedera lahir terjadi selama persalinan lama dan berlarut-larut atau kesulitan lahir. Cedera lahir dapat terjadi apabila janin besar atau presentasi atau posisi janin abnormal. Akan tetapi, terdapat kasus terjadinya cedera in utero.

Caput Succedaneum adalah benjolan yang membulat disebabkan kepala tertekan leher rahim yang saat itu belum membuka penuh yang akan menghilang dalam waktu satu dua hari. Caput succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah. Caput suksedaneum tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5 hari.

BAB II

LANDASAN TEORI

CAPUT SUCCEDANEUM

 

A.    Pengertian

       Caput succedaneum adalah edema kulit kepala anak yang terjadi karena tekanan dari jalan lahir kepada kepala anak. Atau pembengkakan difus, kadang-kadang bersifat ekimotik atau edematosa, pada jaringan lunak kulit kepala, yang mengenai bagian kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran verteks. Karena tekanan ini vena tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi hingga cairan masuk ke dalam jaringan longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah. Dan merupakan benjolan yang difus kepala, dan melampaui sutura garis tengah. (Obstetri fisiologi, UNPAD.1985)
Caput succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah. Caput succedaneum tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5 hari. Kejadian caput succedaneum pada bayi sendiri adalah benjolan pada kepala bayi akibat tekanan uterus atau dinding vagina dan juga pada persalinan dengan tindakan vakum ekstraksi.(Sarwono Prawiroharjo.2002)

Caput succedaneum adalah edema di kulit kepala pada bagian presentasi kepala. Dapat mengenai area kepala secara luas, atau hanya sebesar telur itik, pembengkakan dapat mencapai garis sutura dan edema ini secara bertahap diabsorpsi dan menghilang dlam 3 hari.(Adele Pilliteri.2002)

Caput suksedaneum merupakan benjolan yang difus di kepala, terletak pada presentasi kepala pada waktu bayi lahir, yang timbul akibat tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir. (Markum, 1996)

B.     ETIOLOGI

Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya caput succedaneum pada bayi baru lahir(Obstetri fisiologi,UNPAD, 1985, hal 254), yaitu :

  1. Persalinan lama

Dapat menyebabkan caput succedaneum karena terjadi tekanan pada jalan lahir yang terlalu lama, menyebabkan pembuluh darah vena tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi hingga cairan masuk kedalam cairan longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah.

  1. Persalinan dengan ekstraksi vakum

Pada bayi yang dilahirkan vakum yang cukup berat, sering terlihat adanya caput vakum sebagai edema sirkulasi berbatas dengan sebesar alat penyedot vakum yang digunakan.

C.    PATOFISIOLOGI

Kelainan ini timbul karena tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstra vaskuler. Benjolan caput ini berisi cairan serum dan sering bercampur dengan sedikit darah. Benjolan dapat terjadi sebagai akibat bertumpang tindihnya tulang kepala di daerah sutura pada suatu proses kelahiran sebagai salah satu upaya bayi untuk mengecilkan lingkaran kepalanya agar dapat melalui jalan lahir. Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura sagitalis dan terlihat segera setelah bayi lahir. Moulage ini umumnya jelas terlihat pada bayi premature dan akan hilang sendiri dalam satu sampai dua hari. (Markum, 1996)

Menurut Sarwono Prawiraharjo dalam Ilmu Kebidanan 2002, proses perjalanan penyakit caput succedaneum adalah sebagi berikut :

  1. Pembengkakan yang terjadi pada kasus caput succadeneum merupakan pembengkakan difus jaringan otak, yang dapat melampaui sutura garis tengah.
  2. Adanya edema dikepala terjadi akibat pembendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh. Benjolan biasanya ditemukan didaerah presentasi lahir dan terletak periosteum hingga dapat melampaui sutura.

D.    MANIFESTASI KLINIS

Secara Klinis benjolan ditemukan di daerah presentasi lahir, pada perabaan teraba benjolan lunak, berbatas tidak tegas, tidak berfluktuasi tapi bersifat oedema tekan. Benjolan terletak di luar periosteum hingga dapat melampaui sutura. Kulit pada permukaan benjolan sering berwarna kemerahan atau ungu dan kadang-kadang ditemukan adanya bercak petekie atau ekimoses. Kaput suksedaneum dapat terlihat segera setelah bayi lahir dan akan hilang sendirinya dalam waktu dua sampai tiga hari. (Markum, 1996)

Menurut Nelson dalam Ilmu Kesehatan Anak (Richard E, Behrman.dkk.2000), tanda dan gejala yang dapat ditemui pada anak dengan caput succedaneum adalah sebagi berikut :

  1. Adanya edema dikepala
  2. Pada perabaan teraba lembut dan lunak
  3. Edema melampaui sela-sela tengkorak
  4. Batas yang tidak jelas
  5. Biasanya menghilang 2-3 hari tanpa pengobatan

Menurut Kosim,dkk dalam Buku Asuhan Neonatus, Bayi Dan Balita, 2010 terdapat perbedaan caput succedaneum dan cephalhematoma, sebagai berikut

Caput succedaneum

Cephalhematoma

Muncul waktu lahir, mengecil setelah lahir. Muncul waktu lahir atau setelah lahir, dapat membesar sesudah lahir.
Lunak, tidak berfluktuasi. Teraba fluktuasi.
Melewati batas sutura, teraba moulase. Batas tidak melampaui sutura.
Bisa hilang dalam beberapa jam atau 2-4 hari Hilang lama (beberapa minggu atau bulan).
Berisi cairan getah bening Berisi darah

E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Sebenarnya dalam pemeriksaan caput succedaneum tidak perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut melihat caput succedaneum sangat mudah untuk dikenali. Namun juga sangat perlu untuk melakukan diagnosa banding dengan menggunakan foto rontgen (X-Ray) terkait dengan penyerta caput succedaneum yaitu fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial. (Meida.2009)

 

F.     PENATALAAKSANAAN

Menurut Nelson dalam Ilmu Kesehatan Anak (Richard E, Behrman.dkk.2000), Pembengkakan pada caput succedaneum dapat meluas menyeberangi garis tengah atau garis sutura. Dan edema akan menghilang sendiri dalam beberapa hari. Pembengkakan dan perubahan warna yang analog dan distorsi wajah dapat terlihat pada kelahiran dengan presentasi wajah. Dan tidak diperlukan pengobatan yang spesifik, tetapi bila terdapat ekimosis yang ektensif mungkin ada indikasi melakukan fisioterapi dini untuk hiperbilirubinemia.

Moulase kepala dan tulang parietal yang tumpang tindih sering berhubungan dengan adanya caput succedaneum dan semakin menjadi nyata setelah caput mulai mereda, kadang-kadang caput hemoragik dapat mengakibatkan syok dan diperlukan transfusi darah.

Bidan perlu meyakinkan pada ibu dan keluarga bahwa bayi tidak mengkhawatirkan. Bayi tidak memerlukan tindakan. Pembengakakan akan hilang spontan dalam 2-4 hari setelah lahir. (Muslihatun, 2010)

Berikut adalah penatalaksanaan secara umum yang bisa diberikan pada anak dengan caput succedaneum :

  1. Bayi dengan caput succedaneum diberi ASI langsung dari ibu tanpa makanan tambahan apapun, maka dari itu perlu diperhatikan penatalaksanaan pemberian ASI yang adekuat dan teratur.
  2. Bayi jangan sering diangkat karena dapat memperluas daerah edema kepala.
  3. Atur posisi tidur bayi tanpa menggunakan bantal
  4. Mencegah terjadinya infeksi dengan :

1)   Perawatan tali pusat

2)   Personal hygiene baik

5. Berikan penyuluhan pada orang tua tentang :

1)   Perawatan bayi sehari-hari, bayi dirawat seperti perawatan bayi normal.

2)   Keadaan trauma pada bayi , agar tidak usah khawatir karena benjolan akan menghilang 2-3 hari.

6. Berikan lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi.

  1. Awasi keadaan umum bayi.

 

                                          BAB II

ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS TERHADAP By.Ny.I

DENGAN CAPUT SUCCADANEUM DI BPM SITI HAJAR

TAHUN 2013

Pengkajian

Tanggal           : 26 Juli 2013

Pukul               : 09.30 WIB

SUBJEKTIF (S)

 

  1. Identitas

Nama                      : By. Ny. I

Tanggal lahir           : 26 Juli 2013

Waktu                     : Pkl. 08.30 WIB

Jenis kelamin          : Laki-Laki

Anak ke                  : 1

Nama ibu                : Ny. I                                      Nama Ayah     : Tn. T

Umur                      : 24 Tahun                               Umur               : 27 Tahun

Suku                       : Lampung                               Suku                : Lampung

Agama                    : Islam                                     Agama             : Islam

Pendidikan           : SMA                                     Pendidikan      : SMA

Pekerjaan              : IRT                                        Pekerjaan         : Wiraswasta

Alamat                    : Desa Hajimena, Kec. Natar Lampung Selatan

Anamnesa

1. Keluhan Utama

Ibu mengatakan bayi lahir 1 Jam  dengan benjolan dikepala bayinya, bayi juga sering rewel, dan ibu merasa khawatir.

 2. Riwayat Persalinan Sekarang

Persalinan berlangsung tanggal 26 Juli 2013 Pukul 08.30 WIB

  1. Usia Kehamilan                 : Aterm (39 minggu)
  2. Tempat Persalinan             : BPM
  3. Jenis Persalinan                 : Spontan pervaginam
  4. Penolong Persalinan          : Bidan
Lama Persalinan Perdarahan Keterangan

Kala 1

10 jam

50 cc

Ketuban pecah spontan warna jernih

Kala 2

2,5  jam

100 cc Bayi lahir spontan, tali pusat pendek dengan letak belakang kepala serta terdapat benjolan dikepala, jenis kelamin laki-laki

Kala 3

15 menit

150 cc Plasenta lahir lengkap dengan selaputnya

Kala 4

2 jam

60 cc

Kontraksi uterus baik, tidak ada robekan

Jumlah

14 jam 30 menit

OBJEKTIF (O)

1. Pemeriksaan Umum dan Antropometri

  • Keadaan umum           : Lemah
  • Tanda – Tanda Vital    : Suhu              : 37,2 0C , Nadi              : 120 x/menit ,  Pernafasan     : 36 x/menit
  • Antopometri               : BB                 : 3300 gram

LD                 : 33 cm

LK                 : 35 cm

PB                 : 50 cm

LILA             : 12 cm

2. Pemeriksaan Fisik

1)      Kepala

  • UUB                                       : Menonjol
  •  UUK                                       : Menonjol
  • Molage                                    : Ada
  • Caput sucsedanium                 : Ada
  • Cepal Hematum                      : Tidak ada
  • Bentuk kepala                                     : Bundar
  • Rambut                                   : Tebal

2)      Mata

  • Bentuk                                    : Simetris
  • Pupil                                        : Normal
  • Scrabismus                              : Tidak ada
  • Sklera                                      : Tidak ikteris
  • Konjungtiva                            : Tidak anemis
  • Keadaan                                  : Bersih

3)      Hidung

  • Bentuk                                    : Simetris
  • Pernapasan cuping hidung      : Tidak ada
  • Keadaan                                  : Kotor

4)      Mulut

  • Bentuk                                    : Simetris
  • Gusi                                         : Normal
  • Reflek hisap                            : Masih lemah
  • Reflek rooting                         : Ada
  • Bibir                                        : Merah Muda

5)      Telinga

  • Posisi                                       : Simetris, lubang normal
  • Pengeluaran                             : Tidak ada

6)      Leher

  • Pembesaran tyroid                  : Tidak ada
  • Pergerakan leher                      : Normal

7)      Dada

  • Posisi                                       : Simetris kanan dan kiri
  • Mamae                                    : Normal
  • Nafas                                       : Normal / teratur
  • Retraksi Dada                         : Tidak ada

8)      Abdomen

  • Bentuk                                  : Simetris
  • Pembesaran limpa/hati         : Tidak ada
  • Tali pusat                             : Basah

9)      Punggung dan bokong

  • Fleksibilitas tulang punggung : Baik
  • Bentuk                                    : Simetris
  • Lubang anus                            : Ada

10)  Genetalia

  • Jenis kelamin                           : Laki-laki
  • Penis                                        : normal
  • Skrotum                                  : Sudah turun

11)  Extremitas

  •  Jari tangan dan kaki                : Lengkap, tidak ada cacat
  • Posisi dan bentuk                    : Simetris
  • Pergerakan                              : Aktif
  • Menggenggam (Graping)        : Ada

ASSESMENT (A)

Diagnosa                     : BBL Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan dengan Caput Succedaneum.

Masalah                       : Kurangnya pengetahuan ibu tentang caput  succadeneum

  Keterbatasan aktifitas bayi

PLANNING (P)

1. Memberikan Informasi pada ibu tentang kondisi bayinya saat ini bahwa dikepala bayi terdapat benjolan berupa caput succadeneum yang akan sembuh 2-3 hari

             Ibu mengerti  tentang keadaan bayinya sekarang dan ibu tampak tenang

2. Melakukan pemantauan tentang keadaan umum bayi dan TTV bayi.

              Keadaan umum bayi baik, TTV dalam batas normal.

3. Menganjurkan ibu agar jangan sering mengangkat bayinya dan melibatkan anggota keluarga agar jangan sering mengangkat bayinya.

              Ibu mengerti dan menyetujui untuk tidak sering mengangkat bayinya

4. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan bayi sehari-hari.

  • Mengajarkan ibu melakukan perawatan bayi baru lahir dengan menjaga  kebersihan tubuh dengan memandikannya secara mandi kering, dan membedong bayi setelah dimandikan untuk mencegah hipotermi.
  • Melakukan perawatan tali pusat secara kering terbuka

              Ibu mengerti tentang cara merawat bayi dan menyetujui untuk merawat  bayinya sendiri

5. Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang posisi tidur bayi  tanpa menggunakan bantal agar benjolan dikepala tidak semakin luas.

              Ibu mengerti manfaat tidak menggunakan bantal pada saat bayi tidur dan menyetujui untuk melakukannya

6. Memberikan lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi

  • Menjelaskan pada ibu manfaat untuk memberikan lingkungan  yang nyaman dan hangat pada bayinya agar suhu bayi tetap stabil
  • Menganjurkan pada ibu untuk memberikan lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi
  • Mengajarkan pada ibu untuk memberikan lingkungan  yang nyaman dan hangat dengan memberikan leimut, topi/tutup kepala, dan kaus kaki dan tangan pada bayi.

             Ibu mengerti untuk memberikan llingkungan yang nyaman dan hangat pada bayinya dan menyetujui untuk selalu menjaga kehangatan bayinya

7. Memberikan ASI ekslusif pada bayi

  • Menjelaskan pada ibu mengenai pentingnya pemberian ASI ekslusif karena dengan ASI ekslusif kebutuhan nutrisi bayi dapat  terpenuhi.
  • Menganjurkan pada ibu memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan, dan mengkonsumsi sayur-sayuran hijau seperti daun katuk agar produksi ASI lancar.
  • Mengajarkan pada ibu cara menyusui bayi yang baik dengan memasukkan seluruh kalang susu ibu dimulut bayi , menyusukan bayi secara bergantian antara payudara kiri dan kanan.
  • Melibatkan anggota keluarga terutama suami untuk mendukung ibu dalam memberikan ASI ekslusif pada bayi tanpa makanan tambahan apapun

         Ibu mengerti mengenai pentingnya ASI  eksuif dan bersedia mengkonsumsi sayur-sayuran hijau pada bayinya.

 

Catatan Perkembangan Hari ke 2

Tanggal 27 Juli 2013

SUBJEKTIF (S)

  1. Ibu mengatakan sudah melakukan  yang dianjurkan
  2. Ibu mengatakan sudah memberi ASI pada bayinya
  3. Ibu mengatakan benjolan dikepala bayi berkurang

OBJEKTIF (O)

  1. Benjolan dikepala bayi berkurang, Lingkar kepala 34 cm
  2. Tali pusat masih basah
  3. TTV           : Suhu             : 36,0C

  Pernafasan     : 35x/menit

  Nadi              :118x/menit

  1. BB Bayi                            : 3300 gram
  2. Warna kulit kemerahan
  3. Reflek hisap          : (+), ASI diberikan setiap bayi mau atau menangis.
  4. Eliminasi               : BAK 6-7 x/hari, BAB 4-5 x/hari.

ASSESMENT (A)

Diagnosa               : Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan hari ke

                                dengan Caput Succedaneum

Masalah                 : Keterbatasan aktifitas bayi

PLANNING (P)

  1. Menganjurkan pada ibu untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan tanpa makanan tambahan apapun termasuk susu fomula bayi dan mengkonsumsi sayuran hijau seperti  daun katuk untuk memperlancar produksi ASI.
  2. Menjelaskan pada ibu manfaat  pemberian ASI yaitu dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan dapat mempererat hubungan psikologis ibu dan bayi.
  3. Membersihkan tubuh bayi dengan cara memandikkan bayi dengan mandi lap sampai kondisi bayi normal.
  4. Melakukan perawatan tali pusat dengan menggunakan kasa steril kering lalu dibungkus secara teratur 2x sehari setelah mandi pagi dan sore.
  5. Menghangatkan tubuh  bayi dengan memberi selimut  ditubuh  bayi, topi/penutup dikepala bayi, dan gunakan kakus kaki dan tangan pada bayi dan jangan meletakkan bayi didekat jendela atau udara terbuka .

 

Catatan Perkembangan Hari ke 3

Tanggal 28 Juli 2013

SUBJEKTIF (S)

  1. Ibu mengatakan bayi sudah dimandikan
  2. Ibu mengatakan benjolan dikepala bayi sudah hilang.
  3. Ibu mengatakan bayinya tidak rewel

OBJEKTIF (O)

  1. Keadaan umum bayi baik
  2. Benjolan dikepala bayi sudah hilang, Lingkar kepala 33 cm
  3. Bayi tampak bersih
  4. Tali pusat masih basah
  5. TTV           : Suhu                         : 36,50C

  Pernafasan                 : 36x/menit

  Nadi                          : 120x/menit

  1. Warna kulit kemerahan
  2. Reflek hisap : (+), ASI diberikan setiap bayi mau atau menangis, ASI sudah mulai banyak.
  3. Eliminasi : BAK 6-7 x/hari, BAB 4-5 x/hari

ASSESMENT (A)

Diagnosa               : Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan hari ke 2

Masalah                 : Keterbatasan aktifitas bayi.

PLANNING (P)

  1. Melakukan perawatan tali pusat dengan menggunakan kasa steril kering 2x

sehari sesudah mandi pagi dan sore

  1. Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya selama 6 bulan pertama tanpa diselingi makanan apapun termasuk susu formula dan melakukan perawatan bayi sehari-hari.
  2. Menjaga kehangatan tubuh bayi dengan menggunakan selimut, topi/penutup kepala, dan sarung tangan dan kaki pada bayi.


BAB IV

PEMBAHASAN


By. Ny. I usia 0 hari, lahir spontan pervaginam pukul 8.30 WIB datang ke BPM dengan keluhan terdapat benjolan dikepala bayinya, bayi juga sering rewel, dan ibu merasa khawatir stelah 1 jam bayi lahir.

Dilakukan pemeriksaan pada Kepala :

Bentuk kepala bulat, rambut sedikit kotor, pada perabaan puncak kepala teraba lunak, berisi cairan, batas tidak teraba secara jelas.

BB                   : 3300 gram                 LD                   : 33 cm

LK                   : 35 cm                          PB                   : 50 cm

LILA               : 12 cm

Dari hasil pemeriksaan bayi didiagnosa menderita caput succedaneum. Caput succadeneum adalah edema kulit kepala anak yang terjadi karena tekanan dari jalan lahir kepada kepala anak. Atau pembengkakan difus, kadang-kadang bersifat ekimotik atau edematosa, pada jaringan lunak kulit kepala, yang mengenai bagian kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran verteks. (Obstetri fisiologi, UNPAD, 2005, hal : 254)

Tanda dan Gejala

  1. Adanya edema dikepala
  2. Pada perabaan teraba lembut dan lunak
  3. Edema melampaui sela-sela tengkorak
  4. Batas yang tidak jelas
  5. Biasanya menghilang 2-3 hari tanpa pengobatan

(IKA, Nelson 2002. Hal 608-609)

Penatalaksanaan

  1. Bayi dengan caput succadeneum diberi ASI langsung dari ibu tanpa makanan tambahan apapun, maka dari itu perlu diperhatikan penatalaksanaan pemberian ASI yang adekuat dan teratur.
  2. Bayi jangan sering diangkat karena dapat memperluas daerah edema kepala.
  3. Atur posisi tidur bayi tanpa menggunakan bantal
  4. Mencegah terjadinya infeksi :
    1. Perawatan tali pusat
    2. Personal hygiene baik
  5. Berikan penyuluhan pada orang tua tentang :
    1. Perawatan bayi sehari-hari, bayi dirawat seperti perawatan bayi normal
    2. Keadaan trauma pada bayi , agar tidak usah khawatir karena benjolan akan menghilang 2-3 hari.
  6. Berikan lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi.
  7. Observasi keadaan umum bayi.

Dalam kasus ini bayi dijaga kehangatannya, mengajarkan ibu melakukan perawatan bayi baru lahir dengan menjaga kebersihan tubuh dengan memandikannya secara mandi kering, dan membedong bayi setelah dimandikan untuk mencegah hipotermi, melakukan perawatan tali pusat secara kering terbuka, menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang posisi tidur bayi  tanpa menggunakan bantal agar benjolan dikepala tidak semakin luas, memberikan lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi, mengajarkan pada ibu untuk memberikan lingkungan  yang nyaman dan hangat dengan memberikan leimut, topi/tutup kepala, dan kaus kaki dan tangan pada bayi. memberikan ASI ekslusif pada bayi, menganjurkan pada ibu memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan, dan mengkonsumsi sayur-sayuran hijau seperti daun katuk agar produksi ASI lancar,

mengajarkan pada ibu cara menyusui bayi yang baik dengan memasukkan seluruh kalang susu ibu dimulut bayi , menyusukan bayi secara bergantian antara payudara kiri dan kanan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cuningham,et. All. 2006. Obstetri Williams. Jakarta :EGC

Fakultas Kedokteran UNPAD. 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung

Markum, dkk. 1996. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI

Muslihatun, Wafi. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi Dan Balita. Yogyakarta : Fitramaya

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC

Prawihardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: