Pilih Mana: Melahirkan di Rumah atau di Rumah Sakit?

Ilustrasi (dok: detikHealth)

Jakarta, Menjelang persalinan, hampir setiap pasangan merasa lebih baik melahirkan di rumah sakit karena fasilitasnya yang memadai. Namun sebuah studi baru dari Belanda menyatakan bagi wanita yang risiko komplikasinya rendah, lahiran di rumah saja jauh lebih baik dan aman.

Selama ini tingkat keamanan melakukan proses persalinan di rumah versus di rumah sakit masih sering diperdebatkan oleh para pakar. Di satu sisi, sejumlah pakar mengkhawatirkan terjadinya kondisi gawat darurat, terutama terkait waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan seorang wanita atau bayi dari rumah ke rumah sakit yang dianggap dapat memperburuk komplikasi.

Di sisi lain juga dipertanyakan apakah bijak merekomendasikan seorang wanita dengan risiko komplikasi rendah untuk melahirkan di rumah sakit, dimana mereka bisa saja menerima intervensi medis yang sebenarnya tak diperlukan tapi berpotensi memapari para ibu beserta bayinya dengan efek yang berbahaya.

Untuk itu, studi baru ini berupaya membandingkan komplikasi serius dari persalinan di rumah atau di rumah sakit pada lebih dari 146.000 wanita berisiko komplikasi rendah di Belanda, salah satu negara yang mempunyai persentase persalinan rumahan (home birth) paling tinggi diantara negara-negara Barat.

92.333 partisipan (63 persen) berencana melahirkan di rumah, dan 54.419 partisipan lainnya (37 persen) berencana melahirkan di rumah sakit.

Seperti dilansir Livescience, Sabtu (15/6/2013), peneliti menemukan bahwa risiko komplikasi di kedua kelompok tergolong rendah dan tidak terbukti jika persalinan di rumah akan meningkatkan risiko komplikasi serius saat melahirkan.

Partisipan yang melahirkan di rumah hanya memiliki kemungkinan komplikasi pada satu kasus per 1.000 kelahiran. Sedangkan pada wanita yang merencanakan melahirkan di rumah sakit, kemungkinan komplikasinya mencapai 2,3 kasus per 1.000 kelahiran. Komplikasinya antara lain dilarikan ke UGD atau membutuhkan banyak transfusi darah.

Melahirkan di rumah juga menurunkan risiko komplikasi yang cukup parah seperti pendarahan pasca persalinan. Risiko pendarahan atau postpartum hemorrhage pada partisipan yang melahirkan di rumah hanya 19,6 per 1.000 kelahiran, padahal pada partisipan yang berencana melahirkan di rumah sakit risikonya sebesar 37,6 per 1.000 kelahiran.

Bahkan hasil studi ini tetap konsisten meski peneliti telah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan, misalnya usia dan etnis sang ibu, operasi Caesar yang pernah dilakukan partisipan sebelumnya dan augmentasi persalinan.

Namun perbedaan yang signifikan diantara kedua kelompok terlihat pada wanita yang pernah melahirkan sebelumnya. Peneliti menduga wanita yang sebelumnya pernah mengalami proses persalinan yang relatif sulit lebih cenderung untuk merencanakan persalinan di rumah sakit, meski mungkin tak ada indikasi medis apapun.

Selain itu, menurut peneliti temuan ini hanya berlaku di daerah-daerah yang memiliki bidan-bidan yang telah terlatih membantu wanita melahirkan di rumah serta mempunyai sarana transportasi yang memadai kalau-kalau terjadi keadaan gawat darurat pada si calon ibu.

dikutip dari detikcom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: