Geopolitik Sungai Nil: “Mainan Baru” Kolonial di Jalur Sutera? (Bag-2)

Geopolitik Sungai Nil: “Mainan Baru” Kolonial di Jalur Sutera? (Bag-2)
Penulis : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)
 

Uni Afrika (UA) yang diharap dapat menyelesaikan masalah internal di kawasan —Ethiopia dan Mesir merupakan anggota UA— hanya mampu menyarankan agar kedua negara saling bicara demi mencari solusi bersama pemanfaatan air Sungai Nil. Menurut wartaAFP, Rabu (12/6/2013), “Kedua pihak harus saling bicara karena keduanya membutuhkan air dari Sungai Nil,” kata Ketua Komisi UA, Nkosazana Dlamini-Zuma.

Tampaknya Mesir dan Sudan —sebagai negara di hilir Sungai Nil— dalam posisi sulit jika mereka terus berpedoman pada perjanjian 1929 dan 1959 tentang Peraturan Air Sungai Nil. Ya. Mesir mendapat 55,5 miliar meter kubik/tahun sedangkan Sudan memperoleh 18,5 miliar meter kubik/tahun. Pada bulan Februari 1999 di kota Entebbe, Uganda, terdapat 6 negara menandatangai Nile Basin Initiative yang mengatur ulang pembagian air Nil secara merata. Kendati Mesir dan Sudan menolak hingga sekarang, niscaya posisi kedua negara bakal semakin sulit ketika media Efgar (4/6, www.elfagr.org) memberitakan bahwa Uganda dan Tanzania juga berniat membangun bendungan atau dam-dam baru sepanjang hulu Sungai Nil. Perusahaan Afrika Selatan “Eskom” telah memenangkan tender pembangunan proyek PLTA di kawasan Jinja, Uganda, Tanzania dan mengumumkan akan membangun bendungan.

Dari uraian sepintas di atas terlihat, bahwa mapping potensi konflik di kawasan UA kian meluas, artinya kerawanan atas konflik kini tidak cuma antara Mesir dan Sudan versus Ethiopia saja, ternyata kelompok negara hulu pun juga berniat melakukan pembangunan dam-dam baru.

Sebagaimana sekilas diurai di muka (baca: Bab-1), bila ingin menciptakan konflik di negara-negara yang berkepentingan dengan aliran air Sungai Nil sangatlah mudah, secara asimetris, ganggu saja “sistem di hulu” pasti berimplikasi langsung pada kelompok negara yang berada di hilir sungai. Dalam divide et impera, kondisi semacam ini disebut “titik kritis”. Implementasinya, percik “api” di hulu maka hilir pun akan terbakar. Dalam konteks kasus ini, “api” dimaksud adalah pembangunan-pembangunan dam yang kini tengah dan akan berlangsung di Ethiopia, Uganda, Tanzania, dll. Pertanyaan selidik pun muncul, siapa dibelakang pembangunan dam-dam di kelompok negara hulu Sungai Nil?

dikutip dari theglobal-review.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: