Geopolitik Sungai Nil: “Mainan Baru” Kolonial di Jalur Sutera? (Bag-3/Habis)

Geopolitik Sungai Nil: “Mainan Baru” Kolonial di Jalur Sutera? (Bag-3/Habis)
Penulis : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)
Rumor pun berputar-putar, bahwa ada Cina di belakang pembangunan dam-dam atau bendungan di jajaran UA. Wajar. Sebagai adidaya baru yang tengah menggeliat baik di bidang politik, militer maupun ekonomi, sinyalemen tersebut memang layak, tidak meragukan dan seperti masuk akal. Akan tetapi sumberGlobal Future Institute di Mesir menginformasikan, jika merujuk berita di media Al Jazeera Mubahser Misr (13/62013) awalnya Cina memang berperan, namun akhirnya diminta mundur oleh Mesir khususnya perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi pada pembangunan bendungan di Ethiopia. Dan konon tanpa banyak cing-cong, Cina pun undur diri. Tampaknya dalam pertikaian geopolitik di antara negara-negara UA terkait Sungai Nil, Negeri Tirai Bambu memilih mendukung langkah Mesir.
Pertanyaannya: kenapa sedemikian mudahnya Cina mundur dari mega proyek tersebut? Bukankah sosialis sebagai ideologi yang dianut Cina identik dengan kapitalis? Dengan perkataan lain, sosialis/komunis itu ibarat “kapitalis plat merah” —meminjam istilah Dina Y. Sulaeman—. Oleh sebab ciri-cirinya sama, yaitu mengurai pasar seluas-luasnya dan mencari bahan baku semurah-murahnya! Ya. Bahwa ternyata banyak kepentingan Paman Mao yang justru lebih signifikan di Negeri Piramida daripada sekedar proyek-proyek dam atau bendungan, yaitu produksi dan ekspor kendaraan baik mobil maupun jenis sepeda motor yang laris manis di Mesir. Dengan demikian, untuk sementara pupus dugaan bahwa Cina di belakang pembangunan dam-dam di Ethiopia.

Menggali jauh ke belakang sejenak, bahwa dekade 1903-an, Theodore Herzl, pendiri Zionisme, mengunjungi Mesir dan kemudian mensyahkan laporan teknis tentang transfer air Nil melintasi Terusan Suez. Proyek ini direkomendasi harus segera turun setelah kunjungannya meskipun kala itu otoritas Inggris dan Mesir menolak. Barangkali inilah titik awalnya. Siapa tak kenal Theodore Herzl?

Sebagai negara hilir terjauh, air Nil sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa Mesir. Dalam catatan sejarah, ia telah mengerahkan power baik politik maupun fisik guna melakukan kontrol terhadap pemanfaatan sungai tersebut. Dominasinya terhadap Nil, selain karena aspek sejarah, dukungan para adidaya Barat, juga adanya pengaruh perjanjian kolonial, dan lain-lain.

Tak dapat dipungkiri, Mesir dahulu memang memiliki kendali atas stabilitas negara-negara di hulu sungai sehingga mampu membuat keputusan sepihak mengenai penggunaan Sungai Nil. Tetapi seiring berjalannya waktu, tampaknya dominasi tata layanan air Nil oleh Mesir mulai digugat oleh negara-negara hulu dalam hal pertanggungjawaban serta keadilan. Apalagi tatkala Mesir dalam dua dekade terakhir telah mengalihkan miliaran kubik dalam sebuah mega proyek bertitel: North Sinai Agricultural Development Project ( NSADP) yang dibiayai oleh World Bank. Ya, proyek ini selain mahal dari sisi politik maupun ekonomi, juga terkait buruknya dampak lingkungan atas pembangunannya. Singkat cerita, kendati di tengah gemuruh protes, sejak 1987 air Nil telah mengalir ke sebelah BARAT Terusan Suez dan tak bisa dielak, bahwa proyek yang menelan sekitar 1,5 miliar dolar terus berjalan mengabaikan protes-protes lingkungan. Hal ini selaras dengan rekomendasi Herzl tempo doeloe.

Perkembangan berikutnya, langkah Mesir mengelola Nil malah semakin sensitif karena ia juga memfasilitasi pengalihan air ke TIMUR Terusan Suez melalui terowongan di bawah kanal yang dinamai sebagai “Kanal Perdamaian”.  Tampaknya ujung dari proyek NSADP akan mengalir ke SELATAN Sinai, utara kota El Arish —40 km dari Jalur Gaza—. Ini dia! Sinyalir pun tak bisa dibendung, bahwa proyek tersebut bakal membawa air Nil ke Israel. Manakala merujuk research Elisa Kally, ahli air dari Israel awal 1974-an, maka inilah cara untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan air Israel.

Protes dan sikap oposisi beberapa pihak semakin memanas terkait rencana tersebut. Tahun 1981, Subhi Kahhlen, wartawan Mesir menyuarakan “dua keberatan”-nya. Keberatan pertama, bahwa Sungai Nil adalah “jalur air internasional dan Mesir tidak dapat membuang air secara sepihak tanpa persetujuan mitranya  Sudan, Ethiopia, Uganda, Kenya, Tanzania, Rwanda, Burundi dan Zaire”. Sebagian besar negara-negara hulu katanya, sudah menyatakan keberatan tentang usulan tersebut, ia melihatnya sebagai pelanggaran hukum internasional, terutama jika mengirim air Sungai Nil ke Israel.

Keberatan kedua, Mesir harus mempertimbangkan bahwa air Sungai Nil adalah “air suci”. Sumber kehidupan dan kemakmuran. Rakyat tidak akan tunduk kepada penguasa jika air suci mereka dialirkan kepada musuh orang Islam, penjajah bangsa-bangsa Arab dan penyebar kesengsaraan rakyat Palestina. Dan karena tulisan keberatan di atas, akhirnya Kahhlen pun ditangkap oleh otoritas keamanan Mesir!

Berbalik dari fakta di atas, bahwa semenjak era Mubarak, para ahli Israel membantu Ethiopia merencanakan 40 bendungan di sepanjang Sungai Nil Biru. Stephen Lonergan misalnya, seorang peneliti berbasis di Kanada melaporkan pada tahun 1990 bahwa “Mesir telah mengeluhkan insinyur air Israel bekerja di Ethiopia dan Sudan, merancang sistem irigasi baru yang akan mengurangi aliran sungai Nil, satu-satunya sumber air tawar Mesir”.

Inilah uniqnya Israel, dalam konflik geopolitik di jajaran negara UA ia memakai “politik dua kaki”, di satu sisi di belakang Mesir di hulu sungai, tetapi di sisi lain juga merencanakan pembangunan-pembangunan dam pada kelompok negara hilir. Itulah standar ganda, politik pemanfaatan.

Kajian asimetris (non militer) atas kondisi ini, agaknya Israel plus koalisinya (Barat) tengah memainkan deception,atau penyesatan-penyesatan politik. Artinya konflik geopolitik sekedar open agenda yang boleh dikonsumsi oleh publik global, namun sejatinya ada hidden agenda yang tengah dimainkan. Dalam bahasan sederhananya, di satu sisi negara-negara UA disibukkan oleh “mainan geopolitik” (dalam hal ini adalah konflik antara negara hulu dan hilir di Sungai Nil), sementara di sisi lain ada yang ingin digarap oleh Barat sebagai tujuan pokok. Dugaan penulis,hidden agenda tersebut tak lepas dari what lies beneath the surface (apa yang terkandung di bawah permukaan). Itulah skema kolonialisme yang tak bakal berubah dimanapun — sampai kapanpun.

Membaca (hipotesa) atas langkah Israel di kelompok negara UA, tiba-tiba teringat kembali statement Henry Bannerman, Perdana Menteri Inggris (1906) tentang gagasan tanah air bagi bangsa Yahudi:

“Ada sebuah bangsa (Bangsa Arab/Umat Islam) yang mengendalikan kawasan kaya akan sumber daya alam. Mereka mendominasi pada persilangan jalur perdagangan dunia. Tanah mereka adalah tempat lahirnya peradaban dan agama-agama. Bangsa ini memiliki keyakinan, suatu bahasa, sejarah dan aspirasi sama. Tidak ada batas alam yang memisahkan mereka satu sama lainnya. Jika suatu saat bangsa ini menyatukan diri dalam suatu negara; maka nasib dunia akan di tangan mereka dan mereka bisa memisahkan Eropa dari bagian dunia lainnya (Asia dan Afrika). Dengan mempertimbangkan hal ini secara seksama, sebuah “organ asing” harus ditanamkan ke jantung bangsa tersebut, guna mencegah terkembangnya sayap mereka. Sehingga dapat menjerumuskan mereka dalam pertikaian tak kunjung henti. “Organ” itu juga dapat difungsikan oleh Barat untuk mendapatkan objek-objek yang diinginkan” (JW Lotz, 2010).

Jelas sudah, bahwa dibentuknya Israel semata-mata berdasar kepentingan Barat. Lalu Inggris selaku konseptor mencoba menanamkan sebuah “organ asing” guna memecah belah kelompok negara di Dunia Islam (Arab) agar mereka tercerai-berai – tidak pernah bersatu!

Demikian catatan tak ilmiah ini dibuat, penulis sangat menyadari atas keterbatasan fakta, informasi, sumber dan terutama sekali keterbatasan kemampuan penulis dalam menuangkan analisa berbasis data-data sekunder yang berserak disana-sini. Memang belum boleh dikatakan sebagai kebenaran dan tidak ada maksud penulis untuk melakukan pembenaran terkait kajian ini. Telaah ini masih terbuka untuk kritik dan saran guna mengurai(breakdown) persoalan yang muncul terkait konflik geopolitik di Sungai Nil.

dikutip dari theglobal-review.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: