Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Jumlah Perdarahan Kala IV Persalinan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Angka Kematian Ibu diseluruh dunia masih cukup tinggi. Estimasi WHO tentang AKI (Maternal Mortality Ratio/MMR per 100.000 kelahiran hidup) adalah sebagai berikut, diseluruh dunia sebesar 400, dinegara industri AKI cukup rendah yaitu sebesar 20, di Eropa sebesar 24. Untuk negara berkembang AKI masih cukup tinggi yaitu sebesar 440/100.000, di Afrika sebesar 830/100.000, di Asia Tenggara sebesar 210/100.000 (WHO, 2007 ).

Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007, AKI di Indonesia adalah 228/100.000 kelahiran hidup, AKB 34/1.000. AKI di Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Diperkirakan sedikitnya 18.000 ibu meninggal setiap tahun, karena kehamilan atau persalinan. Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh berbagai penyebab langsung yaitu perdarahan, infeksi, partus lama dan komplikasi abortus. (SDKI,2007)

Target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi (AKB) menjadi 23 per 100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai. Kejadian kematian ibu dan bayi yang terbanyak terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan bayi masih menjadi tragedi yang terus terjadi di negeri ini. Untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir diperlukan upaya dan inovasi baru. (DepKes,2013)

Di Indonesia angka kematian ibu karena persalinan mencapai 50 orang dalam setiap hari atau paling tidak mencapai dua orang perjam, karena proses persalinan atau sesudah persalinan. Perkiraan  jumlah kematian ibu  menurut  penyebabnya di Indonesia tahun 2010, dari 11.53  kasus kematian, perdarahan menempati urutan tertinggi yaitu sebanyak 3.114 kasus, disamping penyebab lainnya seperti eklampsia, infeksi, komplikasi puerperium, dan lain-lain.(SDKI 2007).

Faktor penyebab terjadinya kematian ibu di Lampung berturut-turut disebabkan karena perdarahan (38%), eklampsia atau keracunan kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada ibu hamil sebelum atau sesudah persalinan (23%) dan infeksi (11%) (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2010).

Menurut data Rumah Sakit Umum Dr. Abdul Moeloek bahwa pada tahun 2010 didapatkan sebanyak 2.593 persalinan dengan jumlah perdarahan post partum yaitu kasus atonia uteri sebanyak 3 kasus (0,11%), retensio plasenta 118 kasus (4,55%),sisa plasenta 64 kasus (2,46%) dan laserasi jalan lahir berjumlah 5 kasus (0,19%).

Kala IV persalinan merupakan waktu yang dipakai untuk melakukan pengawasan terhadap  ibu post partum untuk menghindari  terjadinya kematian yang disebabkan oleh perdarahan. Kematian ibu pasca persalinan biasanya tejadi dalam 6 jam post partum. Hal ini disebabkan oleh infeksi, perdarahan dan eklampsia post partum.

Selama persalinan kala empat bahaya utama pada ibu adalah perdarahan postpartum. Keamanan ibu tergantung pada pengkajian yang sering dan waktu intervensi dari petugas yang siaga (Hamilton, 1995). Perdarahan post partum bisa dikurangi dengan menyusui sedini mungkin dalam kurun waktu kurang dari 30 menit setelah bayi lahir, karena isapan bayi pada payudara akan menstimulasi produksi oksitosin secara alami. Oksitosin membantu uterus untuk berkontraksi, sehingga dapat mengontrol perdarahan setelah kelahiran (Manuaba, 1998).

Salah satu asuhan yang diberikan bidan adalah asuhan pada bayi baru lahir. Protokol evidence- based yang baru telah diperbaharui oleh WHO dan UNICEF tentang asuhan bayi baru lahir untuk satu jam pertama yang menyatakan bahwa bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam,bayi harus dibiarkan untuk melakukan inisiasi menyusu dini dan ibu dapat mengenal bahwa bayinya siap untuk menyusu serta memberi bantuan jika diperlukan, dan menunda semua prosedur lainnya yang harus dilakukan kepada bayi baru lahir hingga inisiasi menyusu selesai dilakukan,. (JNPK- KR, 2007).

Dari catatan persalinan  di BPS Siti Jamila pada tahun 2012 terdapat sebanyak 7 kasus perdarahan, 2 diantaranya disebabkan oleh atonia uteri, 2 kasus disebabkan retensio plasenta disamping sebab lainnya seperti  1 kasus ruptur portio dan 2 kasus sisa plasenta. Dari studi pendahuluan  yang dilakukan oleh peneliti dalam hal pelaksanaan IMD dari  15  persalinan hanya 9 (60 %)  yang melakukan IMD.

Berdasarkan fenomena ini, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang  “Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Jumlah Perdarahan Kala IV Persalinan di BPS Siti Jamila Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2013”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: